Pembelajaran E-Learning Sebuah Tantangan
Oleh: Supriono
Oleh: Supriono
Guru matematika SMPN 5 Lamongan
Kemampuan, penguasaan dan trampil dalam menggunakan model pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dengan menggunakan e-learning suatu saat akan menjadi keharusan untuk seorang guru yang profesional
Salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang guru profesional adalah menguasai multimetode pengajaran di kelas. Seiring dengan perkembangan di bidang TIK, khususnya komputer dan internet, suka atau tidak seorang guru dituntut belajar menggunakan metode pengajaran berbasis TIK. Untuk bisa memanfaatkan metode tersebut, guru harus mengenal dan terampil mengoperasikan komputer serta mampu menggunakan internet sebagai sumber belajar, media, dan pendukung pengelolaan proses belajar mengajar.
Salah satu kosakata yang muncul dan populer bersamaan dengan hadirnya TIK dalam dunia pembelajaran adalah e-learning, electronic learning. Secara sederhana, e-learning dapat dipahami sebagai pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi berupa komputer, dilengkapi dengan sarana telekomunikasi (internet) dan multimedia (grafis, audio, dan video), sebagai media utama penyampaian materi dan interaksi antara pengajar dengan pembelajar.
Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning. Pertama, kemampuan membuat desain instruksional sesuai dengan kaidah-kaidah pedagogis yang dituangkan dalam rencana pembelajaran. Kedua adalah penguasaan TIK dalam pembelajaran. Yakni, pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up-to-date dan berkualitas. Ketiga, penguasaan materi pembelajaran sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.
Ada beberapa kendala yang dihadapi sekolah yang ingin menerapkan model pembelajaran berbasis TIK dengan e-learning. Kendala pertama adalah kesiapan siswa. Penggunaan model pembelajaran itu akan berjalan efektif dan menyenangkan jika siswa terampil memanfaatkan perangkat komputer sebagai sarana belajar.
Padahal, kebanyakan siswa yang baru masuk SMP belum mengenal komputer, apalagi mengoperasikan. Maklum, TIK belum masuk kurikulum SD. Hanya SD tertentu yang menyelenggarakan ekstrakurikuler komputer.
Kendala kedua adalah kesiapan guru. Belum semua guru dapat mengoperasikan komputer dan internet. Padahal, itu syarat mutlak terlaksananya model pembelajaran e-learning. Yang lebih ironis, seorang guru sebagai ujung tombak dalam mencerdaskan anak bangsa merasa fobia/takut terhadap teknologi informasi (IT).
Kendala ketiga adalah pembiayaan. Terlaksananya model pembelajaran e-learning perlu dukungan biaya yang tidak sedikit. Yang utama tentu biaya pengadaan alat pendukung, seperti unit komputer, LCD, software bahan belajar berbasis TIK, dan akses internet. Selain itu, diperlukan tenaga penunjang yang menguasai TIK.
Kendala keempat adalah daya dukung sekolah. Tidak sedikit sekolah yang kurang optimal mendukung keberlangsungan model pembelajaran berbasis TIK. Sebab, dibutuhkan ruang multimedia yang terakses dengan jaringan internet dan SDM yang menguasai TIK.
Tapi, jika sekolah mampu memfasilitasi pelaksanaan model pembelajaran e-learning yang dilengkapi dengan SDM memadai, ada beberapa keuntungan yang didapat. Di antaranya, menghemat waktu proses belajar mengajar, mengurangi biaya perjalanan, menjangkau wilayah geografis yang lebih luas, dan melatih siswa lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. (soe)
Tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning
BalasHapus1.Kemampuan membuat desain instruktusional
2.Penguasaan TIK dalam pembelajaran
3.Penguasaan materi pembelajaran
Kendala yang dihadapi sekolah yang ingin menerapkan model pembelajaran e-learning
1.Kesiapan siswa
2.Kesiapan guru
3.Pembiayaan
4.Daya dukung sekolah